Krisna HR Management Resources

Cuman pengen berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar Manajemen SDM dan General Affair. Semoga bermanfaat bagi semua!!

Archive for July, 2008


BERHENTI SAAT DI PUNCAK

ara malaikat sedang sibuk mengadakan rapat untuk menentukan cara-cara mati yang baru untuk daftar manusia yang akan mati bulan ini. Tiba-tiba dikejutkan dengan masuknya salah satu asisten pribadi malaikat pencabut nyawa.

  “Interupsi…interupsi… yang mulia”, teriak sang asisten dengan terengah-engah.

  “Ada apa asisten, kenapa engkau menganggu rapat kami”, tegur sang malaikat pemimpin rapat merasa terganggu.

  “Ada seorang hamba yang seharian berdoa meminta mati hari ini yang mulia”, kata sang asisten dengan muka sangat serius.

  “Hah… manusia macam apa yang meminta mati dalam doanya, apakah sudah sedemikian susah hidupnya ?”, Tanya sang malaikat dengan penuh tanda tanya.

  “Sepanjang yang saya saksikan manusia ini kehidupannya sangat baik yang mulia, harta kekayaannya berlimpah dan selalu beramal, ilmunya sangat tinggi dan selalu mengajarkannya kepada orang lain, setiap saat saya dengar dari hatinya mengingat

Tuhan dan memohon ampunan tanpa henti. Keluarganya sangat berbahagia dan membanggakan dirinya dan bersyukur atas keberadaan orang ini.”, cerita sang asisten dengan berapi-api.

  “Wah… tapi mengapa orang ini berdoa memohon kematian”, renung sang malaikat.

  Akhirnya dalam tanda tanya yang besar sang malaikat pemimpin rapat mengutus salah satu malaikat untuk turun ke dunia dan menanyakan langsung.

“Mohon maaf menganggu waktu anda wahai hamba yang baik”, sapa sang malaikat utusan. Dilihatinya wajah manusia di depannya, seraut wajah yang sangat bersinar. Dari raut wajahnya nampak bahwa orang ini belum terlalu tua, mungkin sekitar 40 tahun umurnya, sinar matanya pun teduh dan nampak sedikit berkaca-kaca.

  “Perkenankan saya bertanya, mengapa kamu memohon mati padahal kehidupan kamu sangat baik ?, lanjut sang malaikat.

  “Wahai malaikat, mengapa aku memohon mati hari ini, karena aku merasa inilah waktu yang tepat untuk kematianku. Inilah saat terbaik dalam kehidupanku dimana hampir seluruh sendi kehidupanku berada dalam kebaikan. Hartaku sudah berlimpah ruah, keimananku sedang berada dalam cinta terbesar atas Tuhanku, kehidupan keluargaku begitu membahagiakan, ibadahku berada dalam kekhusu’kan yang amat menggetarkan,…………”, orang ini terus bercerita tentang semua keindahan kehidupannya seperti air bah yang datang tanpa berhenti dan membuat sang malaikat terpana karena belum pernah disaksikannya seorang manusia yang sedemikian hebat mensyukuri kehidupan.

  “Wahai malaikat karena itulah aku meminta mati hari ini, karena aku menyaksikan banyak sekali hamba yang justru menjadi rakus akan kenikmatan yang dia peroleh. Mereka bertambah haus saat berkuasa, mereka bertambah dahaga saat menjadi kaya raya, mereka semakin terpana atas kehebatannya. Dan aku menyaksikan bahwa sebagian besar dari mereka mengakhiri kehidupannya dalam kesendirian dan ketidak berdayaan. Semua teman dan sahabat menjauhinya saat mereka tidak lagi berkuasa dan memiliki pengaruh yang besar”, suara orang ini mantap dan penuh keyakinan.

  Perlahan-lahan tangan orang ini menjulur ke depan dan menyentuh bahu sang Malaikat. “Hanya kepada engkau Tuhan menganugerahkan konsistensi tanpa gangguan apapun, wahai malaikat. Terhadapku Tuhan memberikan keleluasaan terhadap godaan dan pilihan. Aku tidak yakin apakah aku masih akan bersyukur pada saat DIA mencabut semua kelimpah ruahan ini.”

  Sang Malaikat masih saja terpana. Dari singgasanaNYA Tuhan tersenyum menikmati keindahan sang Hamba. Dengan kuasaNYA Tuhan berbisik kepada sang Malaikat,

  “Biarkan dia hidup lebih lama lagi karena Aku masih ingin menikmati keindahannya”.

Selamat menjalani hari dengan penuh rahmat.

Ten Stupid Things in PA

Ten Stupid Things Managers Do To Screw Up Performance Appraisal
(This article is based on the book: Performance Management - Why
Doesn’t It Work, and the McGraw-Hill book entitled Performance
Management released in October, 1998. Copyright 1998 Robert Bacal.
This article may not be reproduced without permission.)

Performance appraisals aren’t fun. But a lot of the time they are
agonizing because managers do really dumb things, ending up
destroying a process that is important to everyone (or should be).

Stupid Thing #1: Spending more time on performance appraisal than
performance PLANNING, or ongoing performance communication.
Performance appraisal is the end of a process that goes on all the
time - a process that is based on good communication between manager
and employee. So, more time should be spent preventing performance
problems than evaluating at the end of the year. When managers do
good things during the year, the appraisal is easy to do and
comfortable, because there won’t be any surprises.

Stupid Thing #2: Comparing employees with each other.
Want to create bad feelings, damage morale, get staff to compete so
badly they will not work as a team? Then rank staff or compare staff.
A guaranteed technique. And heck, not only can a manager create
friction among staff, but the manager can become a great target for
that hostility too. A bonus!

Stupid Thing #3: Forgetting appraisal is about improvement, not blame.
We do appraisal to improve performance, not find a donkey to pin a
tail on or blame. Managers who forget this end up developing staff
who don’t trust them, or even can’t stand them. That’s because the
blaming process if pointless, and doesn’t help anyone. If there is to
be a point to performance appraisal it should be getting manager and
employee working together to have everyone get better.

Stupid Thing #4: Thinking a rating form is an objective, impartial
tool.
Many companies use rating forms to evaluate employees (you know, the
1-5 ratings?). They do that because it’s faster than doing it right.
The problem comes when managers believe that those ratings are in
some way "real", or anything but subjective, often vague judgements
that are bound to be subjective and inaccurate. By the way, if you
have two people rate the same employee, the chances of them agreeing
are very small. THAT’S subjective. Say it to yourself over and over.
Ratings are subjective. Rating forms are subjective. Rating forms are
not behavioral.

Stupid Thing #5: Stopping performance appraisal when a person’s
salary is no longer tied to the appraisals.
Lots of managers do this. They conduct appraisals so long as they
have to do so to justify or withhold a pay increase. When staff hit
their salary ceiling, or pay is not connected to appraisal and
performance, managers don’t bother. Dumb. Performance appraisal is
FOR improving performance. It isn’t just about pay (although some
think it is ONLY about pay). If nothing else, everyone needs feedback
on their jobs, whether there is money involved or not.

Stupid Thing #6: Believing they are in position to accurately assess
staff.
Managers delude themselves into believing they can assess staff
performance, even if they hardly ever see their staff actually doing
their jobs, or the results of their jobs). Not possible. Most
managers aren’t in a position to monitor staff consistently enough to
be able to assess well. And, besides what manager wants to do that or
has the time. And, what employee wants their manager perched,
watching their every mood. That’s why appraisal is a partnership
between employee and manager.

Stupid Thing #7: Cancelling or postponing appraisal meetings.
Happens a whole lot. I guess because nobody likes to do them, so
managers will postpone them at the drop of a hat. Why is this bad? It
says to employees that the process is unimportant or phony. If
managers aren’t willing to commit to the process, then they shouldn’t
do it at all. Employees are too smart not to notice the low priority
placed on appraisals.
Stupid Thing #8: Measuring or appraising the trivial.
Fact of life: The easiest things to measure or evaluate are the least
important things with respect to doing a job. Managers are quick to
define customer service as "answering the phone within three rings",
or some such thing. That’s easy to measure if you want to. What’s NOT
easy to measure is the overall quality of service that will get and
keep customers. Measuring overall customer service is hard, so many
managers don’t do it. But they will measure the trivial.

Stupid Thing #9: Surprising employees during appraisal.
Want to really waste your time and create bad performance? This is a
guaranteed technique. Don’t talk to staff during the year. When they
mess up, don’t deal with it at the time but SAVE it up. Then, at the
appraisal meeting, truck out everything saved up in the bank and dump
it in the employee’s lap. That’ll show ‘em who is boss!

Stupid Thing #10: Thinking all employees and all jobs should be
assessed in exactly the same way using the same procedures.
Do all employees need the same things to improve their performance?
Of course not. Some need specific feedback. Some don’t. Some need
more communication than others. And of course jobs are all different
Do you think we can evaluate the CEO of Ford using the same approach
as we use for the person who cleans the factory floor? Of course not.
So, why do managers insist on evaluating the receptionist using the
same tools and criteria as the civil engineers in the office?

It’s dumb. One size does not fit all. Actually why do managers do
this? Mostly because the personnel or human resource office leans on
them to do so. It’s almost understandable, but that doesn’t make it
any less dumb.

PENGENDALIAN DIRI

PENGENDALIAN DIRI

Saya yakin, tidak ada kesuksesan yang didapat tanpa usaha, kerja keras, dan disiplin diri yang tinggi. Dan tidak ada kesuksesan yang bertahan lama tanpa dedikasi, profesionalisme dan integritas yang tinggi. Tapi percaya atau tidak percaya, penentu akhir dari semua kesuksesan ataupun setiap keputusan yang akan menghasilkan kesuksesan tersebut, bukanlah semua hal di atas. Penentu akhir dari kesuksesan adalah kemampuan untuk mengendalikan diri. Terdengar sederhana, terkesan mudah, tapi coba lakukan dengan refleks penuh, maka saya yakin kita semua sependapat, mengendalikan diri adalah hal tersulit.

Mengendalikan diri termasuk mengendalikan ego, mengendalikan hawa nafsu, mengendalikan emosi, mengendalikan rasa iri, mengendalikan kemalasan, mengendalikan rasio, dan banyak lagi lainnya. Mengendalikan diri juga termasuk tidak memikirkan keuntungan diri sendiri, tidak membeli sesuatu hanya karena kesenangan dan keinginan semata, tidak mengeluh dan marah - marah tak jelas saat segalanya berjalan buruk, tidak takut salah dan kalah, tidak mengundur - undur segala hal yang harus diselesaikan sekarang, tidak terlambat saat janji, tidak moody, dan lainnya.
Belum disebut semua saja, saya sudah menahan nafas karena rasanya di kepala saya terdengar suara.."itu semua kekurangan yg disebutin…., gue banget…" :)

Mengendalikan diri saya katakan sebagai hal tersulit, karena lawan yang dihadapi adalah diri sendiri. Apakah kita akan mampu mengalahkan semua ego dan sifat buruk yang mendegradasi kemampuan kita, atau justru terbawa arus yang akhirnya akan menghancurkan semua sikap positif yang telah di bangun bertahun - tahun.

Sebagaimana kita ketahui, memandang gajah di seberang sangatlah mudah, tapi memandang semut di pelupuk mata sangatlah sulit. Maka begitu juga yang terjadi, saat memandang dan mencari kesalahan orang lain adalah mudah, tapi melihat kesalahan dan kekurangan diri sendiri adalah sulit. Tanpa pengenalan kemampuan serta kekurangan diri yang benar, saya yakin kita tidak akan bisa mengendalikan diri sendiri.

Biasanya pengendalian diri yang tersulit justru saat posisi kita sedang nyaman.
Segalanya ada di tangan, dan semuanya hampir tercapai. Ibaratnya tinggal satu sentuhan terakhir. Mengapa? Karena cenderungnya saat segalanya berada dalam kendali kita, maka kita merasa berkuasa dan merasa semua yang kita putuskan akan menjadi benar. Dan ibaratnya sedang bermain Uno Sticko (betul tidak ya tulisannya?), satu langkah salah, maka semua susunan akan rubuh tak bersisa.
Tanpa pengendalian diri yang kuat, tidak akan ada keputusan akhir yang bijaksana, taktis, dan sukses. Mungkin untuk lebih pastinya, tanpa membiasakan diri dengan pengendalian diri yang kuat, tidak akan ada refleks untuk membuat keputusan dan bertindak penuh kebijaksanaan, taktis, dan sukses.

Mengapa saya menggunakan kata ‘membiasakan diri’ sebelum ‘pengendalian diri’?
Karena sangat perlu untuk membiasakan diri untuk menciptakan refleks tersebut pada saat - saat yang menentukan. Sebagaimana kita ketahui, 90% saat yang menentukan, datang tiba - tiba dan tanpa aba - aba. Hanya satu kali, dan setelah itu berlalu, maka lewat dan selesailah sudah. Kita sukses atau gagal. Kita semua juga tahu, tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi. Maka jauh lebih penting untuk mempersiapkan apa yang belum dan akan terjadi. Itulah di mana fungsi membiasakan untuk menciptakan refleks itu diperlukan.

Pengendalian diri tanpa membiasakan diri adalah sama seperti orang sakit flu yang pantang makan ice cream. Begitu sakitnya hilang, ia lupa, dan makan ice cream lagi banyak - banyak. Kesalahan yang sama memiliki tingkat persentase yang lebih tinggi untuk terulang kembali. Begitu juga dengan ketidaksuksesan dan kegagalan.
Sedangkan orang yang terbiasa mengendalikan diri adalah orang yang mengetahui takaran secara refleks kapan, di mana, dan seberapa banyak ice cream yang bolek ia nikmati. (Ia nikmati, bukan ia makan) Kesalahan dan ketidaksuksesan memiliki persentase yang sangat kecil hingga tidak mungkin, untuk bisa terulang lagi.

Dan satu yang pasti, percaya atau tidak percaya, dengan membiasakan untuk mengendalikan diri, maka kita telah mengerjakan separuh dari usaha, kerja keras, disiplin diri, dedikasi, profesionalisme, dan integritas diri yang diperlukan untuk mencapai sebuah kesuksesan. Tentu saja kesuksesan yang saya maksud adalah sukses dalam segala bidang termasuk usaha dan pekerjaan, hubungan antar manusia, dan yang paling berarti, yaitu: hidup.

Tips-tips Pengendalian Diri

Lima jurus yang saya jelaskan di artikel ini berguna sebagai strategi untuk mengendalikan diri dalam berbagai aspek kehidupan. Jurus ini bisa Anda terapkan untuk apa saja, yang berurusan dengan pengendalian diri.

Ok, sekarang mari kita bahas masing-masing jurus. Anda bisa menggunakan setiap jurus ini, secara terpisah, berdiri sendiri saat Anda mencoba mengendalikan diri, atau bisa beberapa jurus secara bersamaan.

Jurus pertama adalah mengendalikan diri dengan menggunakan prinsip kemoralan. Setiap agama pasti mengajarkan kemoralan, misalnya tidak mencuri, tidak membunuh, tidak menipu, tidak berbohong, tidak mabuk-mabukan, tidak melakukan tindakan asusila.

Saat ada dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang negatif, coba larikan ke rambu-rambu kemoralan. Apakah yang kita lakukan ini sejalan atau bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama?

Misalnya kita mendapat kesempatan untuk mendapat untung dengan cara yang tidak wajar. Bahasa yang lebih langsung adalah kesempatan untuk korupsi. Saat terjadi konflik diri antara ya atau tidak, mau melakukan atau tidak, kita dapat mengacu pada prinsip moral di atas. Agama mengajarkan kita untuk tidak mencuri atau mengambil barang yang bukan milik kita, tanpa seijin pemiliknya. Kalau kita teguh dengan prinsip moral ini maka kita tidak akan mau korupsi. Korupsi itu dosa. Korupsi itu karma buruk. Bisa masuk neraka, lho.

Jurus kedua pengendalian diri adalah dengan menggunakan kesadaran. Kita sadar saat suatu bentuk pikiran atau perasaan yang negatif muncul. Pada umumnya orang tidak mampu menangkap pikiran atau perasaan yang muncul. Dengan demikian mereka langsung lumpuh dan dikuasai oleh pikiran dan perasaan mereka.

Misalnya, seseorang menghina atau menyinggung kita. Kita marah. Nah, kalau kita tidak sadar atau waspada maka saat emosi marah ini muncul, dengan begitu cepat, tiba-tiba kita sudah dikuasai kemarahan ini. Jika kesadaran diri kita bagus maka kita akan tahu saat emosi marah ini muncul. Kita akan tahu saat emosi ini mulai mencengkeram dan menguasai diri kita. Kita tahu saat kita akan melakukan tindakan "bodoh" yang seharusnya tidak kita lakukan.

Saat kita berhasil mengamati emosi maka kita dapat langsung menghentikan pengaruhnya. Kalau masih belum bisa atau dirasa berat sekali untuk mengendalikan diri, larikan pikiran kita pada prinsip moral. Biasanya kita akan lebih mampu mengendalikan diri.

Bagaimana jika sudah melakukan jurus satu, prinsip moral, dan jurus dua, kesadaran, ternyata kita tetap sulit mengendalikan diri?

Lakukan jurus ketiga yaitu dengan perenungan. Saat kita sudah benar-benar tidak tahan, mau "meledak" karena dikuasai emosi, saat kita mau marah besar, coba lakukan perenungan. Tanyakan pada diri sendiri pertanyaan, misalnya, berikut ini:

Apa sih untungnya saya marah?
Apakah benar reaksi saya seperti ini?
Mengapa saya marah ya? Apakah alasan saya marah ini sudah benar?
Kalau saya marah dan sampai melakukan tindakan yang "bodoh", nanti reputasi saya rusak, kan saya yang rugi sendiri.

Dengan melakukan perenungan kerap kali maka kita akan mampu mengendalikan diri. Prinsip kerjanya sebenarnya sederhana. Saat emosi aktif maka logika kita nggak akan jalan. Demikian pula sebaliknya. Jadi, saat kita melakukan perenungan atau berpikir secara mendalam maka kadar kekuatan emosi atau keinginan kita akan menurun.

Jurus keempat
pengendalian diri adalah dengan menggunakan kesabaran. Emosi naik, turun, timbul, tenggelam, datang, dan pergi seperti halnya pikiran. Saat emosi bergejolak sadari bahwa ini hanya sementara. Usahakan tidak larut dalam emosi. Gunakan kesabaran, tunggu sampai emosi ini surut, baru berpikir untuk menentukan respon yang bijaksana dan bertanggung jawab. Oh ya, tahukah Anda bahwa kata bertanggung jawab itu dalam bahasa Inggris adalah responsibility, yang bila kita pecah menjadi response-ability atau kemampuan memberikan respon?

Kalau sudah menggunakan kesabaran masih juga belum bisa, bagaimana?

Lakukan jurus kelima yaitu menyibukkan diri dengan pikiran atau aktivitas yang positif. Pikiran hanya bisa memikirkan satu hal dalam suatu saat. Ibarat layar bioskop, film yang ditampilkan hanya bisa satu film dalam suatu saat. Nah, film yang muncul di layar pikiran inilah yang mempengaruhi emosi dan persepsi kita. Saat kita berhasil memaksa diri memikirkan hanya hal-hal yang positif maka film di layar pikiran kita juga berubah. Dengan demikian pengaruh dari keinginan atau suatu emosi akan mereda.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"Orang yang tahu takkan lebih baik dari orang yang mengerti.
Orang yang mengerti takkan lebih baik dari orang menghayati.
Orang yang menghayati takkan lebih baik dari orang yang terbiasa.
Bisa karena terbiasa.
Dan terbiasa karena bisa."

"Dengan terbiasa untuk mengendalikan diri, kamu ibarat seseorang yang terbiasa mengendarai kendaraan.
Hanya perlu memikirkan hendak pergi ke mana, bukan sibuk memikirkan bagaimana cara mengendarai kendaraan yang kamu naiki."

RAHASIA THE SECRET berkaitan erat dengan HATI

tahukah anda?
bahwa
RAHASIA THE SECRET berkaitan erat dengan HATI.
Bila kita mampu menguasai hati maka apapun bisa kita dapatkan.
apakah itu uang, kekayaan, wanita idaman, pria idaman, kendaraan,
rumah mewah, anak dan
bahkan kebahagiaan sejati.

jauh sebelum beredarnya buku dan film the secret, saya telah
menggunakan teknik ini tanpa saya sadari, saya selalu beruntung dan
apa yang saya inginkan sebagian besar selalu terkabul.
bahkan barang yang hilang pun sering kembali pada saya.

namun seiring dengan bertambahnya orang2 dan lingkungan yang kurang
baik, biasanya hati kita ikut terpengaruh menjadi tercemar. sehingga
kekuatan hati bisa berkurang. salah satu cara terbaik untuk menjaga
hati adalah dengan membersihkan hati. hindari orang2 dan lingkungan
negatif dalam artian jangan berlama-lama berada di tempat negatif.
terkadang rumah pun bisa menjadi tempat negatif seperti bila istri
bergosip atau membicarakan orang lain..STOP!! ganti topik pembicaraan
bila ada orang yang memancarkan sinyal negatif. Karena hal itu akan
mempengaruhi pikiran dan hati anda.

Aa Gym pernah berbicara tentang pentingnya menata hati:
seperti dalam lagunya.
Jagalah hati..jangan kau kotori…

Tips Dasar Hidup bahagia adalah dengan menjaga hati agar tetap bersih.
seberapa besar kekayaan seseorang, namun bila hatinya kotor penuh
dengki, iri, benci dll
akan membuat hidupnya tidak bahagia dan tenang.

misalnya seorang yang kaya dari hasil korupsi, maling, atau dari hasil
memamerkan aurat atau kecantikan tubuhnya dll. perbuatan seperti itu
akan mengotori hati sehingga sifat tercela akan mudah masuk kedalam
hatinya.

Orang yang pasti tidak nyaman dalam keluarga, orang yang pasti tidak
tentram dalam bertetangga, orang yang pasti tidak nikmat dalam bekerja
adalah orang-orang yang paling busuk hatinya. Yakinlah, bahwa semakin
hati penuh kesombongan, semakin hati suka pamer, ria, penuh
kedengkian, kebencian, akan habislah seluruh waktu produktif kita
hanya untuk meladeni kebusukan hati ini. Dan sungguh sangat berbahagia
bagi orang-orang yang berhati bersih, lapang, jernih, dan lurus,
karena memang suasana hidup tergantung suasana hati. Di dalam penjara
bagi orang yang berhati lapang tidak jadi masalah. Sebaliknya, hidup
di tanah lapang tapi jikalau hatinya terpenjara, tetap akan jadi masalah.

Salah satu yang harus dilakukan agar seseorang terampil bening hati
adalah kemampuan menyikapi ketika orang lain berbuat salah. Sebab,
istri kita akan berbuat salah, anak kita akan berbuat salah, tetangga
kita akan berbuat salah, teman kantor kita akan berbuat salah, atasan
di kantor kita akan berbuat salah karena memang mereka bukan malaikat.
Namun sebenarnya yang jadi masalah bukan hanya kesalahannya, yang jadi
masalah adalah bagaimana kita menyikapi kesalahan orang lain.

Sebetulnya sederhana sekali tekniknya, tekniknya adalah tanya pada
diri, apa sih yang paling diinginkan dari sikap orang lain pada diri
kita ketika kita berbuat salah ?! Kita sangat berharap agar orang lain
tidak murka kepada kita. Kita berharap agar orang lain bisa
memberitahu kesalahan kita dengan cara bijaksana. Kita berharap agar
orang lain bisa bersikap santun dalam menyikapi kesalahan kita. Kita
sangat tidak ingin orang lain marah besar atau bahkan mempermalukan
kita di depan umum. Kalaupun hukuman dijatuhkan, kita ingin agar
hukuman itu dijatuhkan dengan adil dan penuh etika. Kita ingin diberik
kesempatan untuk memperbaiki diri. Kita juga ingin disemangati agar
bisa berubah. Nah, kalau keinginan-keinginan ini ada pada diri kita,
mengapa ketika orang lain berbuat salah, kita malah mencaci maki,
menghina, memvonis, memarahi, bahkan tidak jarang kita mendzalimi ?!

Ah, Sahabat. Seharusnya ketika ada orang lain berbuat salah, apalagi
posisi kita sebagai seorang pemimpin, maka yang harus kita lakukan
adalah dengan bersikap sabar pangkat tiga. Sabar, sabar, dan sabar.
Artinya, kalau kita jadi pemimpin, dalam skala apapun, kita harus siap
untuk dikecewakan. Mengapa? Karena yang dipimpin, dalam skala apapun,
kita harus siap untuk dikecewakan. Mengapa ? Karena yang dipimpin
kualitas pribadinya belum tentu sesuai dengan yang memimpin. Maka,
seorang pemimpin yang tidak siap dikecewakan dia tidak akan siap
memimpin.

Oleh karena itu, andaikata ada orang melakukan kesalahan, maka sikap
mental kita, pertama, kita harus tanya apakah orang berbuat salah ini
tahu atau tidak bahwa dirinya salah ? Kenapa ada orang yang berbuat
salah dan dia tidak mengerti apakah itu suatu kesalahan atau bukan.
Contoh yang sederhana, ada seorang wanita dari desa yang dibawa ke
kota untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ketika hari-hari
pertama bekerja, dia sama sekali tidak merasa bersalah ketika
kran-kran air di kamar mandi, toilet, wastafel, tidak dimatikan
sehingga meluber terbuang percuma, mengapa ? Karena di desanya
pancuran air untuk mandi tidak ada yang pakai kran, di desanya tidak
ada aturan penghematan air, di desanya juga tidak ada kewajiban
membayar biaya pemakaian air ke PDAM, sebab di desanya air masih
begitu melimpah ruah. Tata nilai yang berbeda membuat pandangan akan
suatu kesalahan pun berbeda. Jadi, kalau ada orang yang berbuat salah,
tanya dululah, dia tahu tidak bahwa ini sebuah kesalahan.

kemudian setahap demi setahap, beritahukan dan perbaiki kesalahannya,
agar dia belajar dari kesalahannya.

Beri orang lain 2(dua) kesempatan untuk berbuat salah, yaitu untuk
yang pertama dan yang terakhir.
(prinsip pemimpin sejati)
Dan
ingatlah Hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram.(Al-Quran)

sebarkanlah kebaikan, jika anda merasa bahagia maka jangan segan untuk
menceritakannya
agar kebaikan yang anda dapatkan bertambah. (salah satu cara bersyukur)
(sombong dan bersyukur berbeda)

barang siapa bersyukur, sungguh akan AKu tambahkan nikmat-Ku kepadamu
namun bila kamu kafir, sesungguhnya AzabKu sangat pedih.

rahasia ini sudah ada sejak zaman dulu, yaitu dalam quran
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan"

itulah sebabnya mengapa banyak orang alim ulama dan para wali selalu
bisa memperoleh apa saja
yang diinginkannya, namun mereka para orang soleh tidak meminta
kehidupan dunia, mereka menginginkan kehidupan akhirat yang baik.
sehingga dikehidupan dunia mereka biasa saja namun tetap bahagia.
padahal mereka bisa mendapatkan kekayaan di dunia jika mereka
menginginkannya.
karena yang penting adalah kebahagiaan di akhirat.
untuk apa di dunia kaya jika di akhirat menderita. Betul ??

misal hari ini anda bisa menikmati makanan enak, namun besoknya anda
sakit sehingga tidak bisa menikmati makanan, maka kenikmatan yang anda
rasakan dihari kemarin pastilah sudah tidak terasa lagi.
begitulah orang yang hanya memikirkan dunia meskipun hidup kaya namun
jika diakhirat menderita, maka semua kenikmatan yang dia rasakan
didunia akan sia-sia. seolah-olah dia tidak pernah merasakan
kenikmatan dunia karena pedihnya siksa neraka.

sebaliknya, orang yang paling menderita di dunia namun rajin beribadah
sehingga msuk surga, maka semua yang dia derita didunia tidak akan
terasa lagi seolah-olah dia tidak pernah menderita sedikitpun didunia
karena nikmatnya surga di akhirat.

seperti yang dikatakan orang bilang, pilih mana
1.awal yang bahagia namun akhirnya menderita atau
2.awalnya menderita akhirnya bahagia, atau
3.atau awalnya menderita akhirnya juga menderita, atau
4.awal yang bahagia dan akhir yang bahagia (the begin and the happy
ending)

mulai sekarang anda bisa menggunakan Hati dan rasa syukur untuk
mendapatkan apapun yang anda inginkan. mulailah dari hal yang kecil
dulu. jika ada pengalaman menarik silahkan berbagi cerita
dengan mengirimkan email kepada saya.

saya tidak menjelaskan lebih rinci cara menggunakan kekuatan ini
dengan anggapan kita sudah mengetahui ilmu dasar dalam menarik
apapun yang diinginkan.

Salam Bahagia

Farhan FH